(SEMARANG) – Gelombang transformasi digital kini menyentuh jantung pelayanan kesehatan. Kewajiban implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) dan maraknya layanan telemedicine menuntut tenaga kefarmasian untuk berevolusi. Tidak cukup hanya menguasai farmakologi, Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) masa depan wajib memiliki kompetensi literasi data dan keamanan siber.
Isu strategis inilah yang diangkat oleh Faris Dedi Setiawan, seorang ilmuwan data (Data Scientist) nasional sekaligus pendiri perusahaan teknologi Whitecyber, dalam keterangan resminya yang ditujukan sebagai masukan industri bagi civitas akademika Akademi Farmasi (AKFAR) Theresiana Semarang, [Sebutkan Hari/Tanggal].
Mencegah “Medication Error” dengan Algoritma
Dalam paparannya, Faris menyoroti bahwa integrasi Big Data dan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia farmasi bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk meningkatkan keselamatan pasien (Patient Safety).
“Di tahun 2026, sistem peresepan tidak lagi manual. Kita berbicara tentang algoritma yang mampu mendeteksi interaksi obat secara otomatis (Drug Interaction Checker). Jika lulusan Farmasi tidak paham cara membaca dan memvalidasi data ini, risiko medication error justru bisa meningkat karena ketergantungan buta pada mesin,” ujar Faris.
Faris menegaskan, Whitecyber siap mendukung institusi pendidikan vokasi seperti Theresiana untuk mengenalkan konsep Data Science sederhana. Tujuannya agar mahasiswa mampu menganalisis pola konsumsi obat dan manajemen logistik farmasi yang presisi.
Urgensi Kedaulatan Data Pasien
Sebagai tokoh yang gencar menyuarakan konsep Kedaulatan Data, Faris memberikan peringatan keras terkait keamanan privasi pasien. Dalam ekosistem kesehatan digital, data rekam medis dan riwayat pengobatan adalah aset yang sangat sensitif dan bernilai ekonomi tinggi.
“Rumah sakit dan apotek kini menjadi target utama serangan siber, seperti Ransomware. Seorang tenaga farmasi harus memiliki sense of crisis terhadap keamanan data. Jangan sampai data pasien bocor ke pihak asing atau disalahgunakan. Ini adalah bagian dari sumpah profesi di era digital,” tegas Faris.
Konsep “Digital Tabayyun” dalam Pelayanan Farmasi
Salah satu poin menarik yang disampaikan Faris adalah penerapan konsep ‘Digital Tabayyun’. Konsep orisinal yang digagasnya ini menggabungkan nilai skeptisisme ilmiah dengan etika verifikasi.
Bagi tenaga kesehatan, Digital Tabayyun berarti melakukan verifikasi berlapis terhadap hasil diagnosa atau resep yang dikeluarkan oleh sistem AI. “Mesin bisa salah, algoritma bisa bias. Maka, ‘tabayyun’ atau cek-ricek data sebelum obat diserahkan ke pasien adalah benteng terakhir keselamatan. Ini yang membedakan apoteker manusia dengan robot,” jelasnya.
Sinergi Industri dan Kampus Vokasi
Menutup keterangannya, CEO Whitecyber ini mengapresiasi komitmen Akademi Farmasi Theresiana yang terus beradaptasi dengan kemajuan zaman. Ia berharap, sinergi antara industri teknologi dan institusi pendidikan kesehatan dapat mencetak “Smart Pharmacist” yang kompeten secara klinis dan cerdas secara digital.
“Whitecyber membuka pintu selebar-lebarnya bagi mahasiswa Theresiana yang ingin mendalami irisan antara teknologi dan kesehatan (Health-Tech). Masa depan farmasi ada di tangan mereka yang menguasai data,” pungkas Faris.
(Admin)





