Bidang kesehatan selama ini identik dengan jurusan-jurusan populer seperti Kedokteran, Keperawatan, dan Farmasi, sehingga perhatian calon mahasiswa sering terpusat pada pilihan tersebut. Akibatnya, banyak jurusan kesehatan lain yang sebenarnya memiliki peran penting justru sepi peminat. Kurangnya informasi, minimnya sosialisasi, serta anggapan bahwa prospek karirnya terbatas menjadi faktor utama mengapa jurusan-jurusan ini kurang dilirik, meskipun keberadaannya sangat dibutuhkan dalam sistem pelayanan kesehatan.
Menariknya, jurusan kesehatan yang sepi peminat justru menawarkan prospek karier yang cukup menjanjikan dengan peluang kerja luas dan persaingan yang lebih rendah. Artikel ini akan membahas jurusan kesehatan yang kurang diminati, sekaligus mengulas peluang karir serta gambaran gaji yang bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum menentukan pilihan jurusan.

1. Jurusan Teknik Biomedik
Jurusan Teknik Biomedik merupakan bidang studi interdisipliner yang menggabungkan ilmu teknik, sains, dan kedokteran untuk mendukung pengembangan teknologi kesehatan. Mahasiswa jurusan ini mempelajari dasar-dasar teknik seperti elektronika, mekanika, dan pemrograman, yang dikombinasikan dengan ilmu medis seperti anatomi, fisiologi, serta biologi sel dan jaringan. Pendekatan ini bertujuan menghasilkan solusi teknologi yang mampu meningkatkan kualitas diagnosis, terapi, dan pelayanan medis.
Dari jalur akademik, Teknik Biomedik umumnya tersedia pada jenjang S1 dengan gelar Sarjana Sains (S.Si.) atau Sarjana Biomedis (S.Biomed), tergantung kebijakan perguruan tinggi. Lulusan juga memiliki kesempatan melanjutkan studi ke jenjang S2 Magister Biomedis (M.Biomed) atau bidang terkait seperti biomedical engineering dan teknologi kesehatan. Di Indonesia, jurusan ini telah tersedia di sejumlah perguruan tinggi ternama seperti UI, ITB, ITS, UGM, dan UNAIR, sehingga peluang pengembangan akademik dan profesional terbuka cukup luas.
Prospek Karier Lulusan Teknik Biomedik
Lulusan Teknik Biomedik punya peluang karier luas karena berada di persimpangan dunia kesehatan dan teknologi. Kamu bisa bekerja sebagai Biomedical Engineer (merancang dan memelihara alat kesehatan), Clinical Engineer di rumah sakit, Quality Control Alat Medis, Application Specialist (melatih penggunaan alat medis), Research & Development di industri kesehatan, hingga Sales Engineer Alat Kesehatan.
Sebagai contoh, Biomedical Engineer yang bekerja di rumah sakit atau perusahaan alat medis umumnya bertugas memastikan alat kesehatan berfungsi aman, akurat, dan sesuai standar. Untuk kisaran gaji di Indonesia, posisi ini biasanya berada di rentang Rp6–10 juta per bulan untuk fresh graduate, dan bisa meningkat signifikan seiring pengalaman dan sertifikasi.
2. Jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat ditempuh melalui jenjang D4/Sarjana Terapan dengan gelar S.Tr.Kes atau S.ST, serta S1 dengan gelar S.KM atau S.KKK. Bagi yang ingin melanjutkan studi, tersedia jenjang S2 Magister dengan gelar M.KKK atau M.Tr.KKK. Pilihan jenjang dan gelar ini memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk menyesuaikan pendidikan dengan rencana akademik maupun profesional.
Program studi K3 tersedia di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta. Beberapa kampus yang menyelenggarakan jurusan ini antara lain Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Diponegoro (UNDIP), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), serta sejumlah Politeknik Kesehatan Kemenkes. Banyaknya pilihan universitas memudahkan Anda menentukan tempat studi sesuai minat dan kebutuhan.
Prospek Karir Lulusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Tenaga profesional di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) punya peluang karier luas karena hampir semua industri wajib menerapkan standar keselamatan. Posisi yang dapat dijalani mencakup Safety Officer, HSE Engineer, Safety Auditor, Konsultan K3, hingga Senior HSE Manager di sektor berisiko tinggi seperti migas dan pertambangan. Peran ini menuntut keahlian, pengalaman, dan kepemilikan sertifikasi resmi agar tanggung jawab dapat dijalankan optimal, dengan jenjang karir yang jelas seiring pengalaman dan sertifikasi bertambah.
Selain itu, gaji profesi K3 berkisar mulai dari Rp4 juta hingga Rp 35 juta per bulan, tergantung posisi, pengalaman, tanggung jawab, dan sertifikasi. Safety Officer biasanya berada di kisaran awal Rp4-7 juta, HSE Engineer dan Safety Auditor Rp8-18 juta, Konsultan K3 Rp15-25 juta, dan Senior HSE Manager di industri migas atau pertambangan Rp25-35 juta ke atas. Rentang ini memberikan gambaran peluang penghasilan bagi profesional K3 dari level pemula hingga senior.
3. Jurusan Radiologi
Jurusan Radiologi adalah bidang kesehatan yang berfokus pada penggunaan teknologi pencitraan medis untuk membantu proses diagnosis dan penanganan penyakit. Mahasiswa jurusan ini mempelajari pengoperasian alat-alat diagnostik seperti sinar-X, USG, CT Scan, hingga MRI, sekaligus memahami prinsip keselamatan radiasi dan etika pelayanan medis. Kemampuan membaca, mengolah, dan menganalisis citra medis menjadi kompetensi utama yang harus dikuasai lulusan radiologi.
Dari sisi pendidikan, Radiologi tersedia pada jenjang D3, D4/Sarjana Terapan, hingga S1, dengan gelar yang menyesuaikan jenjang studi seperti A.Md.Rad, S.Tr.Rad, atau S.Kes. Program studi ini dapat ditemui di sejumlah perguruan tinggi dan politeknik kesehatan, seperti Universitas Airlangga (UNAIR), Politeknik Kesehatan Jakarta II, serta Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang. Pilihan jenjang yang beragam memungkinkan Anda menyesuaikan pendidikan dengan rencana karir di bidang radiologi.
Prospek Karir Lulusan Radiologi
Lulusan Jurusan Radiologi memiliki peluang karir yang cukup stabil karena keahliannya sangat dibutuhkan dalam layanan kesehatan modern. Anda dapat bekerja sebagai Radiografer yang mengoperasikan alat pencitraan medis, Terapis Radiasi dalam penanganan pasien kanker, serta Teknisi Pencitraan Medis yang memastikan alat radiologi berfungsi aman dan optimal. Selain itu, peluang kerja juga terbuka di pusat diagnostik mandiri maupun perusahaan alat kesehatan pada posisi teknis dan aplikasi klinis.
Dari sisi penghasilan, Radiografer pemula umumnya memperoleh gaji sekitar Rp3-5 juta per bulan dan dapat meningkat hingga Rp7-10 juta seiring pengalaman. Terapis Radiasi memiliki kisaran gaji Rp4-7 juta per bulan, terutama di rumah sakit rujukan. Sementara itu, Teknisi Pencitraan Medis dan staf teknis di pusat diagnostik atau industri alat kesehatan biasanya berada di rentang Rp5-10 juta per bulan, tergantung peran dan tempat kerja.
4. Jurusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Jurusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) merupakan program studi yang fokus pada pengelolaan, pengolahan, dan pemanfaatan data medis pasien sebagai bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan. Selama perkuliahan, Anda akan mempelajari pencatatan dan pengarsipan rekam medis, klasifikasi serta coding penyakit (ICD), sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS), hingga pengolahan data kesehatan berbasis teknologi dan regulasi kesehatan.
Program studi RMIK tersedia pada beberapa jenjang pendidikan, yaitu D3 dengan gelar A.Md.RMIK, D4/Sarjana Terapan bergelar S.Tr.Kes atau S.Tr.RMIK, serta S1 dengan gelar S.Kes, dan dapat dilanjutkan ke jenjang magister bidang kesehatan atau manajemen informasi.
Prospek Karir Lulusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Bidang Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) menawarkan peluang karir luas karena perannya penting dalam pengelolaan data dan sistem layanan medis. Kamu bisa bekerja sebagai Staf Rekam Medis, Verifikator Klaim BPJS, Analis Informasi Kesehatan, Kepala Instalasi Rekam Medis, atau Konsultan Digitalisasi Layanan Kesehatan, mendukung akurasi layanan dan transformasi digital fasilitas kesehatan.
Sebagai contoh, profesional Rekam Medis dan Informasi Kesehatan yang bekerja di rumah sakit, klinik, atau proyek digitalisasi layanan kesehatan dapat menempati posisi seperti Staf Rekam Medis, Verifikator Klaim BPJS, Analis Informasi Kesehatan, Kepala Instalasi Rekam Medis, hingga Konsultan Digitalisasi Layanan Kesehatan. Mereka biasanya memperoleh gaji di kisaran Rp3-12 juta per bulan, tergantung pengalaman, tanggung jawab, dan skala fasilitas, dengan potensi meningkat seiring sertifikasi dan pengalaman kerja.
5. Jurusan Fisioterapi
Fisioterapi dikenal sebagai bidang rehabilitasi medis yang berfokus pada pemulihan fungsi gerak dan kemampuan fisik seseorang akibat cedera, penyakit, maupun gangguan tertentu. Selama masa perkuliahan, Anda akan mempelajari anatomi, fisiologi, serta biomekanika tubuh manusia, sekaligus memahami berbagai metode terapi fisik yang bertujuan mengurangi nyeri dan meningkatkan mobilitas pasien. Pendekatan yang digunakan bersifat individual, sehingga setiap program terapi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
Dari jalur pendidikan, Fisioterapi dapat ditempuh melalui jenjang D3 dengan gelar A.Md.Ft, D4 atau S1 bergelar S.Tr.Ft atau S.Ft, serta dilanjutkan ke jenjang S2 Magister Fisioterapi (M.Ft). Bekal akademik dan praktik klinis yang intensif membuat lulusan Fisioterapi memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan layanan kesehatan modern, baik di fasilitas medis maupun layanan rehabilitasi mandiri.
Prospek Karir Lulusan Fisioterapi
Lulusan Jurusan Fisioterapi menyediakan ruang karier yang cukup beragam karena keahliannya berperan langsung dalam pemulihan fungsi gerak dan peningkatan kualitas hidup pasien. Anda dapat berkarier sebagai Fisioterapis Rumah Sakit, Fisioterapis Klinik Rehabilitasi, hingga Fisioterapis Olahraga dan Kebugaran yang menangani atlet maupun klien pusat kebugaran. Selain itu, peluang juga terbuka untuk mengembangkan praktik mandiri, baik melalui klinik pribadi maupun layanan terapi ke rumah pasien.
Dalam hal penghasilan, fisioterapis pemula di rumah sakit umumnya memperoleh gaji sekitar Rp4-6 juta per bulan dan dapat meningkat hingga Rp8-10 juta seiring pengalaman. Di klinik rehabilitasi atau pusat kebugaran, pendapatan berkisar Rp5-8 juta per bulan, tergantung jam praktik dan jumlah pasien. Sementara itu, fisioterapis olahraga profesional atau praktik mandiri berpotensi meraih penghasilan Rp 12-18 juta per bulan, bergantung reputasi dan spesialisasi yang Anda miliki.
6. Jurusan Teknologi Bank Darah
Bidang Teknologi Bank Darah fokus pada pengelolaan darah pasien untuk menjamin keselamatan dan kualitas transfusi. Program studi ini tersedia pada jenjang D3 dengan gelar A.Md.Kes dan D4/Sarjana Terapan dengan gelar S.Tr.Kes, serta menekankan ketelitian, tanggung jawab, dan pemahaman prosedur laboratorium yang tepat.
Selama masa studi, Anda akan mempelajari proses donor darah, pemeriksaan golongan darah, uji keamanan transfusi, hingga penyimpanan darah sesuai standar medis. Kompetensi yang diperoleh dari jurusan ini membuat lulusan siap menghadapi tantangan teknis dan berperan penting dalam mendukung kualitas layanan transfusi darah di berbagai fasilitas kesehatan.
Prospek Karir Lulusan Teknologi Bank Darah
Tenaga profesional Teknologi Bank Darah memiliki peluang berkarir di berbagai fasilitas kesehatan yang menangani transfusi darah, seperti unit transfusi rumah sakit, Palang Merah Indonesia (PMI), dan laboratorium klinik. Mereka memegang peran penting dalam menjamin ketersediaan darah serta keamanan prosedur transfusi, mulai dari pemeriksaan golongan darah, uji kecocokan, hingga pengelolaan stok dan sampel darah, sehingga berkontribusi langsung pada kualitas layanan kesehatan dan keselamatan pasien.
Profesi di bidang ini memiliki kisaran gaji mulai dari Rp4 juta hingga Rp 12 juta per bulan, bergantung pada pengalaman, fasilitas, dan tanggung jawab pekerjaan yang dijalankan. Rentang tersebut mencakup tenaga di unit transfusi rumah sakit, staf di PMI, maupun profesional laboratorium klinik, sehingga karier di bidang ini relatif stabil dan terus dibutuhkan seiring perkembangan layanan kesehatan.
7. Jurusan Pengobatan Tradisional
Jurusan Pengobatan Tradisional menitikberatkan pada pengembangan metode terapi kesehatan berbasis kearifan lokal yang telah distandarisasi secara ilmiah. Selama perkuliahan, Anda mempelajari berbagai pendekatan terapi komplementer dengan penekanan pada aspek keamanan, efektivitas, dan etika pelayanan kesehatan. Pembahasan tidak hanya terbatas pada praktik tradisional, tetapi juga integrasinya dengan sistem medis modern. Materi seperti herbal medicine, akupunktur, dan pijat terapeutik menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini mendorong layanan kesehatan alternatif yang bertanggung jawab dan sesuai regulasi.
Program Pengobatan Tradisional dapat ditempuh melalui jenjang D3 dengan gelar A.Md.Kes hingga D4/Sarjana Terapan bergelar S.Tr.Kes. Lulusan memiliki kesempatan mengembangkan kompetensi melalui pelatihan dan sertifikasi profesi sesuai bidang terapi yang ditekuni. Di Indonesia, bidang ini mulai mendapat perhatian seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kesehatan holistik. Kondisi tersebut membuka peluang akademik dan profesional yang relevan. Jurusan ini cocok bagi Anda yang tertarik pada layanan kesehatan komplementer berbasis standar medis.
Prospek Karir Lulusan Pengobatan Tradisional
Lulusan Jurusan Pengobatan Tradisional memiliki peluang karir yang cukup beragam seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan kesehatan komplementer dan holistik. Anda dapat berkarir sebagai terapis pengobatan tradisional berizin, praktisi akupunktur, terapis herbal, maupun terapis pijat kesehatan di klinik tradisional atau fasilitas kesehatan tertentu. Selain itu, lulusan juga berpeluang mengembangkan praktik mandiri dengan membuka layanan terapi kesehatan tradisional yang terintegrasi dengan pendekatan medis modern.
Dari aspek penghasilan, terapis pengobatan tradisional pemula umumnya memperoleh pendapatan sekitar Rp4-7 juta per bulan, terutama jika bekerja di klinik atau fasilitas layanan kesehatan. Bagi praktisi yang telah memiliki pengalaman, sertifikasi, dan basis pasien tetap, penghasilan dapat meningkat hingga Rp8-12 juta per bulan. Sementara itu, praktik mandiri dengan reputasi baik berpotensi menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, tergantung jenis layanan, lokasi praktik, serta jumlah klien yang ditangani.
8. Jurusan Administrasi Kebijakan Kesehatan
Jurusan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) adalah program bidang kesehatan non‑medis yang mempelajari pengelolaan sistem layanan kesehatan, manajemen rumah sakit, serta pengembangan kebijakan pelayanan kesehatan. Program ini tersedia pada jenjang S1 dengan gelar S.Kes atau S.ARS, dan dapat dilanjutkan ke jenjang S2 dengan gelar seperti MHA, MARS, atau M.Kes, yang dirancang untuk membekali mahasiswa kemampuan analisis kebijakan dan manajemen berbasis data.
Beberapa perguruan tinggi di Indonesia menyediakan program studi yang relevan dengan kajian administrasi atau kebijakan kesehatan, termasuk Universitas Indonesia (UI) dalam bidang Administrasi dan Kebijakan Kesehatan dan STIKes RS Husada dengan program S1 Administrasi Kesehatan yang mencakup elemen manajemen layanan kesehatan.
Prospek Karir Lulusan Administrasi Kebijakan Kesehatan
Jurusan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan membekali Anda dengan kemampuan mengelola sistem dan kebijakan layanan kesehatan secara profesional, mulai dari pengelolaan data hingga perencanaan dan evaluasi layanan. Gaji bagi lulusan jurusan ini berada di kisaran Rp3 juta sampai Rp12 juta per bulan, tergantung posisi, pengalaman, tanggung jawab, dan skala institusi tempat bekerja.
Dalam hal karier, lulusan dapat menempati posisi seperti Administrator Layanan Kesehatan yang mengelola operasional fasilitas kesehatan, Analis Kebijakan atau Staf Rekam Medis yang mendukung pengambilan keputusan berbasis data, Manajer SDM atau Pemasaran Layanan Medis yang mengatur strategi dan sumber daya manusia, hingga Konsultan Kesehatan yang memberikan saran, evaluasi, dan implementasi kebijakan di berbagai lembaga kesehatan. Posisi-posisi ini menuntut keterampilan manajerial, analisis data, dan pemahaman sistem kesehatan yang mendalam.
9. Jurusan Okupasi
Terapi Okupasi berfokus pada pendampingan individu agar mampu menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri dan bermakna melalui pendekatan berbasis aktivitas fungsional. Bidang ini mencakup rehabilitasi fisik, mental, dan sosial bagi pasien stroke, anak berkebutuhan khusus, lansia, hingga individu dengan gangguan kesehatan mental. Selama perkuliahan, Anda mempelajari rehabilitasi berbasis aktivitas, psikologi kesehatan, serta teknik intervensi yang disesuaikan dengan kondisi klien. Pendekatan yang digunakan bersifat holistik dan berorientasi pada kualitas hidup pasien.
Dari jalur pendidikan, Terapi Okupasi dapat ditempuh pada jenjang D4/Sarjana Terapan dengan gelar S.Tr.Kes., serta terbuka peluang melanjutkan ke S2 Magister Terapi Okupasi (MScOT). Lulusannya dibutuhkan di berbagai layanan seperti rumah sakit, klinik rehabilitasi, sekolah inklusi, puskesmas, hingga layanan kesehatan komunitas. Kebutuhan tenaga profesional di bidang ini terus meningkat seiring masih terbatasnya jumlah terapis okupasi di Indonesia.
Prospek Karir Lulusan Terapi Okupasi
Lulusan Jurusan Terapi Okupasi menawarkan ruang karier yang cukup luas karena perannya dibutuhkan dalam proses rehabilitasi fisik, mental, dan sosial pada berbagai kelompok usia. Anda dapat berkarier sebagai Terapis Okupasi Rumah Sakit, Terapis Okupasi Klinik Rehabilitasi, serta Terapis Okupasi Sekolah Inklusi yang menangani pasien stroke, cedera, maupun gangguan tumbuh kembang. Selain itu, peluang juga terbuka sebagai Terapis Okupasi Panti Lansia, Terapis Okupasi Puskesmas, hingga Terapis Okupasi Layanan Kesehatan Komunitas yang berfokus pada peningkatan kemandirian individu dalam aktivitas sehari-hari.
Terkait dengan penghasilan, terapis okupasi pemula umumnya memperoleh gaji sekitar Rp3,5-4,5 juta per bulan ketika bekerja di fasilitas kesehatan atau lembaga pendidikan. Seiring bertambahnya pengalaman dan kompetensi klinis, pendapatan dapat meningkat hingga Rp5-6 juta per bulan atau lebih. Terapis okupasi berpengalaman, yang menangani kasus khusus, bekerja di institusi swasta, atau mengembangkan praktik terapi mandiri, berpotensi memperoleh penghasilan lebih tinggi, tergantung cakupan layanan dan jumlah klien yang ditangani.
10. Jurusan Analis Kesehatan
Jurusan Analis Kesehatan (ATLM) berfokus pada pemeriksaan dan analisis sampel medis seperti darah, urin, dan jaringan untuk mendukung proses diagnosis penyakit. Program studi ini tersedia mulai dari jenjang D3 dengan gelar A.Md.Kes, D4/Sarjana Terapan dengan gelar S.Tr.Kes, hingga S2 dengan gelar M.Kes atau M.Biomed bagi lulusan magister.
Jurusan Analis Kesehatan memiliki peran vital dalam mendukung layanan medis modern, terutama dalam memastikan akurasi diagnosis melalui analisis sampel. Keahlian lulusan jurusan ini semakin relevan dengan berkembangnya teknologi laboratorium dan digitalisasi data kesehatan. Dengan kompetensi yang dimiliki, mereka berkontribusi langsung pada efektivitas sistem pelayanan kesehatan dan kualitas pengambilan keputusan medis.
Prospek Karir Lulusan Analis Kesehatan
Profesi Analis Kesehatan menawarkan banyak peluang karier yang menjanjikan. Kamu bisa bekerja di rumah sakit untuk memeriksa sampel darah, urin, dan jaringan pasien, di industri farmasi untuk memastikan kualitas obat dan vaksin sesuai standar, atau di lembaga penelitian dan pendidikan untuk analisis sampel klinis dan forensik. Pekerjaan ini menuntut ketelitian tinggi, kemampuan analisis, dan pemahaman prosedur laboratorium modern.
Untuk penghasilan, lulusan Analis Kesehatan biasanya memperoleh gaji di kisaran Rp7-12 juta per bulan, dan bisa meningkat lebih tinggi seiring pengalaman, sertifikasi, atau posisi senior, baik di rumah sakit, laboratorium, industri farmasi, maupun lembaga penelitian.
Jurusan kesehatan tidak selalu harus berasal dari bidang yang populer untuk menawarkan masa depan yang menjanjikan. Sejumlah jurusan kesehatan yang sepi peminat justru memiliki peran penting dalam sistem pelayanan medis, baik di rumah sakit, industri kesehatan, maupun lembaga pemerintah. Dengan kebutuhan tenaga profesional yang terus meningkat, peluang karir di jurusan-jurusan ini cenderung lebih terbuka dan kompetitif dari sisi persaingan.
Melalui pemahaman yang tepat mengenai prospek kerja, jenjang pendidikan, serta kisaran gaji, Anda dapat mempertimbangkan pilihan jurusan secara lebih matang dan strategis. Memilih jurusan kesehatan yang kurang diminati tetapi dibutuhkan dapat menjadi langkah realistis bagi anda yang ingin membangun karier stabil, relevan, dan berkontribusi langsung dalam dunia kesehatan.





