8 Prosedur Pemeriksaan Hematologi Lengkap di Laboratorium Medis dan Cara Baca Hasilnya

8 prosedur pemeriksaan hematologi lengkap di laboratorium medis menggunakan alat hematology analyzer untuk menganalisis sampel darah dan membaca hasil pemeriksaan.

Pemeriksaan hematologi merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium medis yang berperan penting dalam menilai kondisi kesehatan seseorang melalui analisis komponen darah. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi mengenai jumlah sel darah merah, sel darah putih, trombosit, kadar hemoglobin, serta berbagai indeks eritrosit. Melalui hasil pemeriksaan tersebut, tenaga medis dapat memperoleh petunjuk awal mengenai kemungkinan anemia, infeksi, gangguan pembekuan darah, maupun kelainan pada sistem pembentukan sel darah.

Salah satu pemeriksaan hematologi yang paling sering dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap atau Complete Blood Count (CBC). Menurut MedlinePlus, pemeriksaan ini digunakan untuk mengevaluasi kesehatan secara umum, membantu menelusuri penyebab gejala tertentu, dan memantau kondisi medis. Namun, keakuratan hasil tidak hanya bergantung pada alat laboratorium, melainkan juga pada persiapan pasien, teknik pengambilan darah, penanganan spesimen, dan interpretasi hasil oleh tenaga kesehatan. Oleh karena itu, memahami prosedur pemeriksaan hematologi lengkap dapat membantu pasien maupun mahasiswa kesehatan mengenali proses pemeriksaan dan membaca laporan laboratorium secara lebih tepat.

1. Persiapan Pasien Sebelum Pemeriksaan Hematologi

Persiapan pasien merupakan tahap awal yang penting untuk memastikan pemeriksaan berlangsung aman dan menghasilkan data yang dapat dipercaya. Sebelum pengambilan sampel, petugas laboratorium perlu memverifikasi identitas pasien serta memastikan jenis pemeriksaan yang diminta sesuai dengan formulir pemeriksaan.

Apakah pemeriksaan hematologi harus puasa?

Pada umumnya, pemeriksaan darah lengkap tidak memerlukan puasa khusus. Pasien dapat makan dan minum seperti biasa apabila hanya menjalani pemeriksaan CBC. Namun, apabila pemeriksaan hematologi dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan lain, seperti glukosa darah puasa atau profil lipid tertentu, petugas dapat memberikan instruksi persiapan tambahan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan meliputi:

  • Memberitahukan obat, suplemen, atau terapi yang sedang digunakan kepada tenaga kesehatan.
  • Menginformasikan riwayat mudah pingsan ketika pengambilan darah.
  • Mengikuti instruksi khusus apabila terdapat pemeriksaan tambahan.
  • Menyampaikan kondisi kesehatan tertentu, termasuk kehamilan atau riwayat perdarahan.
  • Memastikan identitas pada formulir pemeriksaan sudah benar.

Pasien tidak dianjurkan menghentikan obat secara mandiri hanya untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

Persiapan yang sesuai membantu mengurangi kemungkinan kesalahan pra-analitik, yaitu kesalahan yang terjadi sebelum sampel diperiksa menggunakan alat laboratorium.

2. Prosedur Pengambilan Sampel Darah (Flebotomi)

Prosedur pengambilan sampel darah vena untuk pemeriksaan hematologi di laboratorium

Flebotomi merupakan prosedur pengambilan darah dari pembuluh darah untuk keperluan pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan hematologi rutin, sampel biasanya diperoleh melalui vena di area lengan oleh tenaga kesehatan terlatih.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menekankan bahwa proses pengambilan darah harus memperhatikan keselamatan pasien, pencegahan infeksi, dan kualitas spesimen. Kesalahan pada tahap ini dapat memengaruhi hasil pemeriksaan maupun keselamatan petugas.

Tahapan pengambilan darah

Secara umum, proses flebotomi mencakup beberapa tahapan berikut:

  1. Petugas memastikan identitas pasien dan jenis pemeriksaan yang diminta.
  2. Petugas melakukan kebersihan tangan dan menyiapkan perlengkapan steril.
  3. Area pengambilan darah dipilih dan dibersihkan menggunakan antiseptik.
  4. Darah diambil melalui prosedur venipunktur menggunakan peralatan sekali pakai.
  5. Sampel dimasukkan ke tabung yang sesuai dengan jenis pemeriksaan.
  6. Area bekas pengambilan darah diberi penekanan hingga perdarahan berhenti.
  7. Sampel diberi label identitas dan disiapkan untuk dikirim ke laboratorium.

Pada pemeriksaan darah lengkap, laboratorium umumnya menggunakan tabung yang mengandung antikoagulan EDTA untuk mencegah pembekuan sampel.

Prosedur ini harus dilakukan oleh petugas yang memiliki kompetensi sesuai standar pelayanan laboratorium medis.

3. Penanganan dan Penyimpanan Spesimen Darah

Setelah darah berhasil diambil, sampel harus ditangani dengan benar agar kondisi sel darah tetap sesuai untuk dianalisis.

Penanganan spesimen yang kurang tepat dapat menyebabkan pembekuan, kerusakan sel darah, atau perubahan karakteristik sampel. Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan angka pemeriksaan yang tidak mencerminkan keadaan pasien sebenarnya.

Prinsip penanganan spesimen hematologi

Beberapa aspek penting yang diperhatikan petugas laboratorium adalah:

  • Pelabelan: setiap tabung harus memiliki identitas pasien yang sesuai dengan permintaan pemeriksaan.
  • Homogenisasi: sampel dengan EDTA dicampur perlahan sesuai petunjuk produsen tabung agar antikoagulan tersebar merata.
  • Pemeriksaan kondisi sampel: petugas memeriksa kemungkinan adanya bekuan, volume tidak sesuai, atau kerusakan spesimen.
  • Transportasi: sampel dikirim menggunakan wadah dan prosedur pengangkutan yang aman.
  • Waktu pemeriksaan: analisis dilakukan dalam batas waktu dan kondisi penyimpanan yang telah divalidasi oleh laboratorium.

WHO menjelaskan bahwa prosedur pengumpulan dan transportasi spesimen merupakan bagian penting dari upaya menjaga mutu pemeriksaan laboratorium.

Apabila sampel tidak memenuhi kriteria penerimaan, laboratorium dapat meminta pengambilan darah ulang untuk mencegah pelaporan hasil yang tidak akurat.

4. Pemeriksaan Menggunakan Hematology Analyzer

Setelah spesimen dinyatakan memenuhi persyaratan, pemeriksaan dilanjutkan menggunakan alat analisis hematologi otomatis atau hematology analyzer.

Perangkat ini dirancang untuk menghitung dan mengukur berbagai komponen darah secara cepat. Bergantung pada jenis alat, pengukuran dapat memanfaatkan prinsip impedansi listrik, metode optik, pengukuran fotometrik, atau teknologi lainnya.

Parameter yang dianalisis

Pada pemeriksaan darah lengkap, alat biasanya menghasilkan beberapa parameter utama.

ParameterFungsi pemeriksaan
Hemoglobin (Hb)Mengukur konsentrasi protein pembawa oksigen
Eritrosit (RBC)Menghitung jumlah sel darah merah
Leukosit (WBC)Menghitung jumlah sel darah putih
Trombosit (PLT)Menghitung keping darah yang berperan dalam hemostasis
Hematokrit (Hct)Menunjukkan proporsi volume darah yang ditempati eritrosit
MCVMenggambarkan ukuran rata-rata eritrosit
MCHMenggambarkan jumlah rata-rata hemoglobin per eritrosit
MCHCMenggambarkan konsentrasi rata-rata hemoglobin dalam eritrosit

Hasil pemeriksaan ditampilkan melalui sistem laboratorium dan dapat dilengkapi tanda peringatan apabila alat mendeteksi pola yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Pengendalian mutu pemeriksaan

Sebelum hasil digunakan untuk pelayanan pasien, laboratorium harus menerapkan pengendalian mutu sesuai prosedur yang berlaku.

Pengendalian mutu mencakup pemeriksaan bahan kontrol, pemantauan kinerja alat, pemeliharaan, serta evaluasi hasil yang berada di luar batas yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, kecepatan analisis otomatis tetap diimbangi oleh proses pemeriksaan mutu untuk menjaga keandalan hasil.

5. Pemeriksaan Hemoglobin, Eritrosit, dan Hematokrit

Hemoglobin, eritrosit, dan hematokrit merupakan tiga parameter yang saling berkaitan dalam mengevaluasi kemampuan darah mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh.

Pemeriksaan hemoglobin (Hb)

Hemoglobin adalah protein yang mengandung zat besi dan terdapat di dalam sel darah merah. Protein ini berfungsi mengikat oksigen di paru-paru dan mengangkutnya menuju jaringan tubuh.

Kadar hemoglobin yang rendah dapat menjadi petunjuk adanya anemia. Namun, penyebabnya beragam, mulai dari kekurangan zat besi, kehilangan darah, hingga penyakit kronis.

Sebaliknya, kadar hemoglobin yang tinggi dapat berkaitan dengan dehidrasi, kondisi kekurangan oksigen kronis, atau peningkatan produksi sel darah merah.

Pemeriksaan eritrosit (RBC)

Eritrosit merupakan sel darah merah yang berfungsi membawa hemoglobin.

Jumlah eritrosit yang rendah dapat ditemukan pada beberapa kondisi anemia. Sementara itu, peningkatan jumlah eritrosit dapat terjadi karena perubahan volume plasma, kondisi lingkungan, atau gangguan tertentu yang memengaruhi produksi sel darah.

Jumlah eritrosit harus dinilai bersama hemoglobin, hematokrit, dan indeks eritrosit.

Pemeriksaan hematokrit (Hct)

Hematokrit menunjukkan persentase volume darah yang ditempati oleh sel darah merah.

Sebagai contoh, hematokrit sebesar 42% berarti sekitar 42% volume darah terdiri atas eritrosit.

Nilai hematokrit dapat dipengaruhi oleh jumlah dan ukuran sel darah merah serta kondisi hidrasi tubuh. Oleh karena itu, perubahan hematokrit tidak selalu menunjukkan gangguan produksi sel darah.

6. Pemeriksaan Leukosit dan Hitung Jenis Sel Darah Putih

Leukosit atau sel darah putih merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh. Sel-sel ini membantu tubuh merespons infeksi, peradangan, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Pemeriksaan leukosit terdiri atas penghitungan jumlah total sel darah putih dan, apabila diperlukan, pemeriksaan hitung jenis leukosit atau differential count.

Jenis-jenis leukosit

Terdapat lima jenis utama leukosit yang dapat dianalisis dalam pemeriksaan hitung jenis.

Jenis leukositFungsi utama
NeutrofilBerperan dalam pertahanan terhadap infeksi, terutama bakteri
LimfositBerperan dalam respons imun adaptif
MonositMembantu membersihkan mikroorganisme dan sisa sel
EosinofilBerkaitan dengan respons alergi dan pertahanan terhadap parasit
BasofilBerperan dalam reaksi alergi dan inflamasi

Menurut MedlinePlus, pemeriksaan hitung jenis leukosit membantu tenaga medis mengevaluasi infeksi, gangguan sistem imun, serta kondisi tertentu yang memengaruhi pembentukan sel darah.

Cara membaca jumlah leukosit

Peningkatan leukosit disebut leukositosis, sedangkan penurunan leukosit disebut leukopenia.

Leukositosis dapat ditemukan pada infeksi, peradangan, stres fisiologis, atau penggunaan obat tertentu. Sementara itu, leukopenia dapat berkaitan dengan infeksi tertentu, efek obat, maupun gangguan sumsum tulang.

Interpretasi yang lebih akurat memerlukan pemeriksaan jenis leukosit, gejala pasien, dan hasil pemeriksaan pendukung.

7. Pemeriksaan Trombosit dan Indeks Eritrosit

Selain mengevaluasi sel darah merah dan putih, pemeriksaan hematologi lengkap juga menilai jumlah trombosit serta karakteristik eritrosit melalui sejumlah indeks.

Pemeriksaan trombosit (PLT)

Trombosit merupakan komponen darah yang berperan dalam proses hemostasis, yaitu mekanisme tubuh untuk menghentikan perdarahan.

Jumlah trombosit yang rendah disebut trombositopenia. Kondisi ini dapat berkaitan dengan peningkatan risiko perdarahan, terutama apabila jumlahnya sangat rendah atau terdapat gangguan fungsi trombosit.

Sebaliknya, jumlah trombosit yang tinggi disebut trombositosis. Peningkatan ini dapat terjadi sebagai respons terhadap peradangan, kekurangan zat besi, maupun gangguan pembentukan sel darah tertentu.

Pemeriksaan jumlah trombosit tidak secara langsung menggambarkan seluruh kemampuan pembekuan darah. Pada kondisi tertentu, dokter dapat meminta pemeriksaan hemostasis tambahan.

Pemeriksaan MCV, MCH, dan MCHC

Ketiga indeks eritrosit membantu menggambarkan karakteristik sel darah merah.

MCV (Mean Corpuscular Volume) menunjukkan ukuran rata-rata eritrosit. Nilai rendah menggambarkan sel yang lebih kecil, sedangkan nilai tinggi menunjukkan sel yang lebih besar.

MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) menunjukkan jumlah rata-rata hemoglobin dalam satu eritrosit.

MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) menunjukkan konsentrasi rata-rata hemoglobin dalam volume eritrosit.

Sebagai contoh, kombinasi hemoglobin rendah dan MCV rendah dapat mengarahkan dokter untuk mempertimbangkan anemia mikrositik, termasuk kemungkinan kekurangan zat besi atau talasemia.

Namun, penentuan penyebab tetap membutuhkan evaluasi klinis dan pemeriksaan tambahan yang sesuai.

Pemeriksaan apusan darah tepi

Gambaran sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit pada pemeriksaan apusan darah tepi

Apabila ditemukan hasil otomatis yang tidak biasa, laboratorium dapat melakukan pemeriksaan apusan darah tepi.

Pemeriksaan ini menggunakan preparat darah yang diamati melalui mikroskop untuk menilai bentuk, ukuran, dan karakteristik sel darah.

Menurut MedlinePlus, apusan darah tepi dapat membantu mengevaluasi kelainan morfologi eritrosit, leukosit, dan trombosit yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh angka pemeriksaan otomatis.

8. Interpretasi Hasil Pemeriksaan Hematologi Lengkap

Tahap terakhir adalah membaca dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan berdasarkan nilai rujukan, kondisi klinis, dan riwayat kesehatan pasien.

Hasil laboratorium umumnya menampilkan nama parameter, angka hasil pemeriksaan, satuan, serta rentang rujukan yang digunakan laboratorium.

Tabel nilai rujukan hematologi umum

Berikut contoh nilai rujukan untuk orang dewasa berdasarkan referensi MedlinePlus. Rentang ini bersifat ilustratif dan tidak dapat menggantikan nilai rujukan pada laporan laboratorium masing-masing pasien.

ParameterNilai rujukan umum dewasa
Hemoglobin pria13–18 g/dL
Hemoglobin wanita12–16 g/dL
Eritrosit pria4,6–6,2 juta/µL
Eritrosit wanita4,2–5,4 juta/µL
Leukosit4.500–11.000/µL
Trombosit150.000–400.000/µL
Hematokrit pria40–55%
Hematokrit wanita36–48%
MCV80–100 fL
MCH27–32 pg
MCHC32–36 g/dL

Referensi: MedlinePlus, CBC Blood Test. Satuan trombosit disajikan per mikroliter (µL).

Rentang rujukan dapat berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, kehamilan, ketinggian tempat tinggal, kondisi kesehatan, metode analisis, dan kebijakan laboratorium.

Khusus pada bayi, anak-anak, dan ibu hamil, interpretasi membutuhkan rentang rujukan yang sesuai dengan kelompok pasien.

Contoh cara membaca hasil pemeriksaan

Misalnya, seorang pasien dewasa memiliki hasil pemeriksaan sebagai berikut.

ParameterHasilKeterangan ilustratif
Hemoglobin10,5 g/dLDi bawah rujukan dewasa pada tabel
Eritrosit4,1 juta/µLPerlu dibandingkan dengan rujukan pasien
Leukosit7.500/µLDalam rentang rujukan umum
Trombosit250.000/µLDalam rentang rujukan umum
MCV72 fLDi bawah rentang rujukan umum
MCH24 pgDi bawah rentang rujukan umum

Berdasarkan data tersebut, hemoglobin, MCV, dan MCH berada di bawah rentang rujukan umum.

Pola ini dapat mengarahkan tenaga medis untuk mengevaluasi kemungkinan anemia dengan karakteristik eritrosit berukuran kecil. Akan tetapi, hasil tersebut belum dapat memastikan penyebabnya.

Dokter mungkin mempertimbangkan pemeriksaan ferritin, parameter status besi lainnya, atau pemeriksaan tambahan berdasarkan gejala dan riwayat pasien.

Hal penting ketika membaca hasil laboratorium

MedlinePlus menekankan bahwa hasil laboratorium harus dipahami berdasarkan keseluruhan kondisi pasien. Nilai di luar rentang rujukan tidak selalu menunjukkan penyakit, sedangkan hasil dalam rentang rujukan tidak selalu menjamin tidak adanya gangguan kesehatan.

Oleh karena itu, hasil pemeriksaan perlu dievaluasi bersama keluhan, pemeriksaan fisik, riwayat pengobatan, serta hasil laboratorium sebelumnya.

Apabila terdapat hasil yang sangat menyimpang, pasien sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis. Keluhan seperti sesak napas berat, pingsan, atau perdarahan yang sulit berhenti memerlukan penilaian medis segera.

Tags :
Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest